Plumbago zeylanica, yang dalam dunia Ayurveda disebut Citraka (atau “Chitrak”), merupakan salah satu tanaman obat penting dalam sistem pengobatan tradisional India. Tanaman ini sudah digunakan selama ribuan tahun untuk meningkatkan kesehatan pencernaan, mengatasi gangguan toksin (ama), hingga masalah kulit dan sendi. Dalam konteks Indonesia, tanaman ini dikenal sebagai daun encok atau ki encok, yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional setempat.
Apa itu Citraka?
Citraka adalah nama Sanskrit untuk tanaman obat yang secara ilmiah bernama Plumbago zeylanica L., anggota keluarga Plumbaginaceae. Tanaman ini berupa semak berbatang agak berkayu dengan daun berwarna hijau dan bunga kecil berwarna putih.
Nama "Citraka" secara harfiah berarti “yang bercak atau terlihat cerah”, mengacu pada tampilan bagian akar atau batangnya yang tampak unik dan menarik, serta kualitasnya yang dikenal cepat bekerja bila digunakan dalam obat tradisional.
Nama Vernakular dan Sinonim
Selain Citraka dalam Ayurveda, tanaman ini dikenal dengan beragam nama lokal di berbagai daerah, di antaranya:
- Daun encok / Ki encok / Godong encok, sebutan di Indonesia (Jawa, Sunda, Bali, Madura, Timor).
- Bama - di Bali.
- White leadwort / Ceylon leadwort - dalam Bahasa Inggris.
- Chitrak, Agni, Vahni, Jvalanakhya - berbagai nama dalam bahasa Sanskrit/Hindi/Ayurveda.
- Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia juga disebut bahwa Plumbago zeylanica dikenal sebagai Daun encok, tanaman yang bisa tumbuh liar di kawasan tropis termasuk Indonesia.
Citraka dalam Ayurveda: Dari Text Klasik Hingga Praktik
Dalam dunia Ayurveda, Citraka disebutkan dalam teks kuno seperti Charaka Samhita, Sushruta Samhita, dan Bhavaprakasha Nighantu sebagai herba penting dengan sifat deepana (merangsang agni atau api pencernaan) dan pachana (membantu proses pencernaan).
Ayurveda juga menggolongkannya berdasarkan karakteristiknya:
- Rasa (Rasa): Katu (pedas), Tikta (pahit)
- Guna (kualitas): Laghu (ringan), Ruksha (kering)
- Virya (energi): Ushna (memiliki sifat penghangat)
- Vipaka (efek pascadigestive): Katu (pedas)
Dalam pandangan Ayurveda, kombinasi sifat ini memberi Citraka kemampuan untuk meningkatkan fungsi pencernaan dan metabolisme, serta membantu mengeluarkan ama (racun/metabolit tidak terurai) dari tubuh.
Manfaat Citraka dalam Perspektif Ayurveda
Meningkatkan Agni dan Pencernaan
Citraka digunakan terutama untuk menguatkan agni - api pencernaan yang menurut Ayurveda sangat menentukan kesehatan secara umum. Ketika agni lemah, banyak masalah seperti kembung, gas, konstipasi, atau sindrom ama muncul. Citraka merangsang sekresi enzim pencernaan sehingga membantu memecah makanan lebih efektif.
Membantu Mengatasi Ama dan Detoksifikasi
Dengan sifat deepana-pachana, Citraka bisa membantu memecah dan mengeluarkan racun internal (ama), terutama pada gangguan pencernaan, sindrom metabolik, dan kondisi yang berkaitan dengan penumpukan toksin.
Mendukung Sistem Pernafasan
Citraka juga digunakan dalam formula tradisional untuk membantu gangguan pernafasan ringan dan batuk kronis karena sifatnya yang ushna (panas) dan katu (pedas) yang membuka saluran pernafasan.
Anti-Inflamasi dan Nyeri Sendi
Dalam praktek tradisional, Citraka sering dipakai dalam ramuan untuk meredakan nyeri sendi dan otot jika dipadukan dengan minyak atau formula lain yang sesuai dengan konstitusi Ayurveda.
Antihelmintik dan Antimikroba
Dalam praktek tradisional, Citraka sering dipakai dalam ramuan untuk meredakan nyeri sendi dan otot jika dipadukan dengan minyak atau formula lain yang sesuai dengan konstitusi Ayurveda.
Citraka memiliki sifat yang kuat (ushna virya), sehingga harus digunakan dalam dosis kecil dan di bawah bimbingan praktisi Ayurveda. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung atau efek samping lain.
Citraka vs “Daun Encok” di Indonesia: Mana Bedanya?
Di Indonesia, tanaman Plumbago zeylanica dikenal secara tradisional sebagai daun encok atau ki encok. Masyarakat pedesaan biasa menggunakan daun ini sebagai obat luar untuk:
Mengurangi nyeri sendi (terutama nyeri encok/rematik) yang diobati dengan menempelkan daun pada area yang sakit (meskipun ada risiko dermatitis kontak jika terlalu lama).
Obat luar untuk kurap atau infeksi kulit ringan di beberapa komunitas tradisional.
Namun, penting untuk dipahami bahwa penggunaan tradisional ini tidak selalu aman jika dilakukan tanpa pengetahuan yang tepat - terutama karena tanaman ini mengandung senyawa yang kuat dan bisa menyebabkan iritasi kulit atau masalah jika digunakan berlebihan.
Bentuk Penggunaan Citraka dalam Ayurveda
Ayurveda memanfaatkan Citraka dalam berbagai bentuk, tergantung tujuan pengobatan:
1. Churna (Bubuk)
Akar atau rimpang Citraka dikeringkan lalu ditumbuk halus. Digunakan dalam dosis kecil (misalnya 0,5–2 g) dengan air hangat sebelum makan untuk merangsang agni.
2. Decoction (Kashaya)
Rebusan akar Citraka (misalnya 2–5 g dengan air) hingga menyusut, diminum hangat untuk membantu pencernaan.
3. Kalka (Pasta)
Pasta akar dengan minyak wijen dipakai topikal untuk masalah sendi tertentu.
4. Formulasi Kombinasi
Citraka sering dicampur dengan rempah lain seperti trikatu (Piper longum, jahe, dan lada hitam), licorice, atau guggulu dalam formula yang diatur secara klinis untuk tujuan tertentu.
Efek Samping & Perhatian
Meskipun Citraka sangat bermanfaat secara tradisional, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Iritasi Gastrointestinal:
- Dosis tinggi dapat menyebabkan sensasi panas di lambung atau diare.
- Iritasi Kulit: Aplikasi luar selama terlalu lama dapat menyebabkan kulit melepuh atau iritasi.
- Hati-hati pada Ibu Hamil & Menyusui: Sebaiknya dihindari karena potensi stimulasi dan efek yang kuat.
- Interaksi Obat: Bisa memengaruhi metabolisme obat tertentu jika dikonsumsi bersamaan - diskusikan dengan ahli kesehatan jika perlu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar